“Waktu itu saya dipanggil ke ruang guru dan diberi surat untuk dibawa ke bank. Setelah itu saya menginformasikan ke orang tua dan melakukan aktivasi rekening sampai uang bantuan PIP bisa diterima,” kata Jolin.
Dampak PIP juga dirasakan oleh Aprillia Givanny, murid SMK Maitreyawira jurusan Akuntansi.
Baginya, PIP mampu menutupi sebagian kebutuhan pendidikan dan biaya penunjang lainnya, seperti transportasi ke sekolah dan alat tulis.
April menerima PIP diawali dari pendataan kondisi ekonomi keluarga yang dilakukan sekolah saat registrasi masuk SMK.
“Kadang kondisi ekonomi keluarga naik turun. Saat sedang sulit, bantuan PIP benar-benar membantu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan lainnya,” kata April.
Senada dengan keduanya, PIP juga berdampak dan memotivasi Alan Seven Cordiassimus Dakhi untuk menjadi ahli teknologi di masa depan.
Siswa SMK Maitreyawira itu merupakan seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga.
Baginya, PIP tidak hanya memberikan dukungan secara finansial, namun juga menjadi motivasi untuk belajar lebih giat dan meraih cita-cita.
“Dengan PIP ini, saya semakin semangat belajar dan ingin menata masa depan yang lebih baik untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Setelah lulus SMK, saya ingin kuliah di jurusan Teknik Informatika agar saya bisa menjadi seorang Developer Program,” kata Alan.