"Tidak mudah untuk mengidentifikasi peluncurnya. Yang kita lihat adalah rudal yang ditempatkan di tempat-tempat tersembunyi atau tempat-tempat yang tidak terkait dengan militer sebelum perang, ketika pengawasan masih minim," katanya.
Menurutnya, penurunan serangan terjadi karena Iran kehilangan kemampuan untuk meluncurkan serangan dalam jumlah besar sekaligus.
Sebagai gantinya, Iran kini menembakkan satu atau dua rudal ke target sipil dan komersial, terutama di negara Teluk, meskipun Teheran menegaskan hanya menargetkan kepentingan AS.
"Secara militer, [tindakan Iran] tidak signifikan. Ini yang disebut tembakan provokatif untuk melemahkan sistem peringatan di negara-negara tetangga dan menakut-nakuti orang," kata Des Roches.
Para ahli menilai Iran kini mengubah strategi menjadi perang jangka panjang. Peneliti di German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, mengatakan Iran berusaha membuat lawan kehabisan kemampuan pertahanan lebih dulu.
"Mungkin ada ketertarikan untuk menjadikan ini perang gesekan," ujarnya.
Iran juga mendesentralisasi sistem peluncuran dengan mengandalkan peluncur bergerak yang lebih sulit dideteksi. "Ini adalah perlombaan tentang waktu," kata Azizi.
Senada, akademisi dari Doha Institute for Graduate Studies, Muhanad Seloom, mengatakan ancaman Iran tidak bergantung pada jumlah serangan.