Anne menjelaskan besaran emisi tersebut menggambarkan efisiensi moda berbasis rel yang mampu mengangkut penumpang dalam jumlah besar secara terjadwal. Dengan kapasitas angkut yang tinggi, emisi yang dihasilkan dapat terbagi ke lebih banyak pengguna perjalanan antarkota, sehingga akumulasi emisi dapat dikendalikan.
Pada skenario yang sama, apabila seluruh pelanggan KA Jarak Jauh melakukan perjalanan menggunakan bus antarkota, total emisi karbon diperkirakan mencapai sekitar 386,4 juta kg CO₂e atau 386,4 ribu ton CO₂e.
Sementara itu, apabila perjalanan dilakukan menggunakan kendaraan pribadi, total emisi karbon diperkirakan meningkat hingga sekitar 2.716,3 juta kg CO₂e atau setara 2,72 juta ton CO₂e.
“Perbandingan ini menunjukkan pilihan moda transportasi berpengaruh besar terhadap akumulasi emisi karbon sektor transportasi. Dengan jumlah pelanggan yang besar, pemanfaatan kereta api membantu menjaga emisi tetap lebih terkendali dibandingkan moda lain,” beber Anne.
Lebih lanjut, Anne menambahkan KAI terus mendorong peningkatan efisiensi operasional, penguatan tingkat keterisian penumpang, serta integrasi layanan antarmoda. Langkah tersebut diarahkan agar pertumbuhan layanan KA Jarak Jauh tetap selaras dengan prinsip keberlanjutan.