Sementara itu, Chancellor CUPB Wang Tongqi mengatakan bahwa pembaruan MoU tersebut akan menjadi fondasi untuk memperkuat kolaborasi strategis kedua universitas dalam menjawab tantangan transisi energi.
Peluang kolaborasi ini mencakup pengembangan teknologi seperti penyimpanan hidrogen; penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS); teknik kelautan; serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di bidang teknik perminyakan.
"Kami berharap kemitraan ini dapat berkembang ke tingkat yang lebih strategis serta memberikan kontribusi bagi pengembangan kerja sama energi antara China dan Indonesia," kata Wang.
Selain dengan CUPB, ITB juga menjalin kerja sama akademik dalam bentuk program gelar ganda dengan dua kampus China lainnya, yakni Southwest Jiaotong University (SWJTU) di bidang teknologi perkeretaapian, serta dengan Central South University (CSU) di bidang metalurgi.
Pada 8 Juli lalu, ITB menjalin kerja sama riset dengan Tsinghua University melalui penandatanganan Research Collaboration Agreement (RCA). Kolaborasi riset ini mencakup berbagai bidang strategis, seperti energi, keberlanjutan, kedokteran, perencanaan kota, serta kebijakan publik. dilansir antaranews.com