CARAPANDANG.COM- Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Syaroni Rofii, menilai Indonesia perlu aktif melobi sebanyak mungkin pemimpin dunia dalam upaya mengakhiri konflik Iran–AS–Israel.
Syaroni menilai bahwa Indonesia dapat memainkan peran kunci sebagai mediator jika Iran, AS, dan Israel memiliki kepercayaan terhadap Indonesia.
“Kalau ada yang menengahi, ada mediator, mungkin Iran juga bisa menahan diri. Jadi, orang itu bisa berdamai kalau ada trust,” ujar Syaroni.
Pada 28 Februari, AS dan Israel menyerang Iran dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah dan menutup Selat Hormuz, yang mengakibatkan ratusan kapal tanker tidak dapat melewati jalur laut tersebut.
Menurut Syaroni, jika Selat Hormuz terus ditutup, maka harga minyak dunia berpotensi naik, menyatakan bahwa saat ini harga minyak dunia sudah mencapai 70 dolar AS (Rp1,1 juta) per barel.
“Jadi, Indonesia punya kepentingan untuk memastikan bahwa harga minyak ini harus ditekan, dan caranya adalah dengan menghentikan perang,” kata Syaroni.
Menurutnya, Indonesia dapat menjadi mediator melalui Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan mekanisme PBB.
“Di BOP itu ada Israel dan Amerika di dalamnya…Indonesia juga bisa menggalang dukungan dari negara-negara seperti negara OKI. Karena di negara OKI itu ada para eksportir, ada Saudi, kemudian ada Uni Emirat di dalamnya,” ujarnya.