Dr. Kumardev mengatakan tulang merupakan organ yang dinamis dan memiliki kemampuan alami untuk memperbaiki dirinya sendiri. Namun, penggunaan tembakau mengganggu proses perbaikan dan penyembuhan tersebut melalui berbagai mekanisme.
Menurut dia, nikotin serta zat berbahaya lain yang terkandung dalam rokok dan produk tembakau tanpa asap dapat menghambat aliran darah ke tulang dan jaringan penyangganya.
Padahal, aliran darah sangat penting untuk mengantarkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan selama proses penyembuhan setelah cedera maupun operasi, ini menghambat kesehatan tulang.
Selain itu, tulang mewakili jaringan hidup yang terus-menerus mengalami perbaikan dan pembaruan diri, dan penyembuhan patah tulang yang tertunda adalah salah satu masalah paling umum yang terkait dengan kebiasaan merokok.
Misalnya, pada banyak perokok, penyatuan kembali tulang yang patah berlangsung lebih lambat dan lebih sulit, bahkan dalam beberapa kasus mereka tidak sembuh sama sekali. Kondisi medis ini dikenal sebagai non-union atau kegagalan penyatuan tulang.
"Dalam praktik saya, saya selalu menekankan kepada pasien bahwa sehebat apa pun tindakan operasi atau alat medis yang digunakan, semuanya tidak akan mampu mengatasi proses penyembuhan yang buruk,” ujar dia.