Kuota Pertalite tahun 2026 ditetapkan sebesar 29,27 juta kiloliter . Sementara konsumsi Pertamax diperkirakan mencapai 6,4 hingga 7 juta kiloliter per tahun.
Berdasarkan simulasi, setiap liter BBM bersubsidi memiliki beban implisit bagi negara sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000.
Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mencatat bahwa hingga Mei 2026 belanja subsidi dan kompensasi energi telah mencapai sekitar Rp203,7 triliun atau 45,6 persen dari pagu APBN.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengklaim perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite belum masif.
Pemerintah telah mengantisipasi dengan penggunaan QR code untuk pembelian Pertalite serta peningkatan pengawasan.
Pemerintah juga menjamin harga Pertalite dan Biosolar tidak akan naik hingga akhir tahun sebagai bentuk kebijakan perlindungan terhadap kelompok rentan.