Analis JP Morgan memperkirakan negara-negara Teluk penghasil minyak hanya memiliki kapasitas penyimpanan kurang dari sebulan jika selat tetap tertutup, yang berpotensi memaksa penghentian produksi lebih lanjut.
Para analis memperingatkan bahwa harga bisa segera menyentuh 100 dolar AS per barel jika konflik tak mereda. Goldman Sachs mencatat adanya "risiko kenaikan yang sangat besar" pada prediksi harganya, dan jika jalur perdagangan di Selat Hormuz terus terhambat, harga dapat menembus 100 dolar AS dalam beberapa hari ke depan.
"Pasar seratus persen tidak siap menghadapi konflik jangka panjang," ujar Rebecca Babin, analis energi dari CIBC Private Wealth Group, seperti dikutip dari laporan pasar.
Kenaikan harga minyak ini terjadi di saat yang bersamaan dengan rilisnya data tenaga kerja AS yang mengecewakan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa ekonomi kehilangan 92.000 lapangan kerja pada Februari, sebuah kejutan besar dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 59.000 lapangan kerja. Tingkat pengangguran juga naik dari 4,3% menjadi 4,4%.
Kombinasi antara inflasi yang tertekan oleh kenaikan harga energi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat pasar tenaga kerja yang lemah memicu diskusi mengenai potensi stagflasi.