"Muktamar kali ini harus menjadi momen yang ikhlas, tanpa politik uang dan tanpa campur tangan kepentingan politik luar. Kepada pihak-pihak yang selama ini dianggap menimbulkan keributan, sebaiknya ikhlas dan memberi kesempatan kepada yang lebih layak. Cukup membantu dari luar agar NU tetap menjadi organisasi yang teduh dan bermanfaat bagi umat," ujarnya.
Data penelusuran ANTARA menyebutkan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi telah menyepakati bahwa Muktamar ke-35 NU rencananya akan digelar pada tanggal 1–5 Agustus 2026.
Keputusan ini telah dimatangkan kembali dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang baru saja selesai diselenggarakan di Ploso, Kediri pada akhir Juni lalu.
Seluruh bahasan materi, komisi, dan keputusan penting (termasuk fikih siber dan tata kelola haji yang sempat hangat dibahas) sudah digodok pada Munas-Konbes itu untuk langsung dibawa ke arena Muktamar.
Perihal lokasi, hingga akhir Juni, PBNU masih melakukan kajian dan peninjauan akhir terhadap beberapa daerah yang mengajukan diri sebagai tuan rumah, di antaranya Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatera Barat.
Agenda Utamanya, selain membahas arah strategis organisasi memasuki abad kedua NU, Muktamar ke-35 ini agenda utamanya adalah pemilihan Ketua Umum PBNU yang baru serta penentuan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk memilih Rais Aam.