Mahyeldi menambahkan, pembangunan Surau menggunakan material bambu menjadi simbol adaptasi masyarakat terhadap lingkungan sekitar sekaligus mencerminkan nilai budaya lokal yang kuat.
“Penggunaan bambu pada surau ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap relevan dalam proses pemulihan pascabencana. Selain ramah lingkungan, juga menyatu dengan kondisi alam setempat,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Bias, Khalid Syaifullah menyampaikan pembangunan Huntara Mandiri dan Surau bambu merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang dilandasi kepedulian kemanusiaan.
“Kami bersama warga, TNI, mahasiswa, dan relawan berupaya menghadirkan hunian sementara yang layak, sekaligus sarana ibadah yang memiliki nilai sosial dan budaya. Semoga keberadaan huntara ini memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi warga terdampak,” ujar Khalid.
Ia menjelaskan, Surau Bambu Talang dibangun dengan memanfaatkan bambu yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar lokasi.
“Karena menggunakan bambu dari sekitar kawasan, surau ini kami beri nama Surau Bambu Talang,” terangnya.
Keberadaan Huntara beserta Surau Bambu Talang diharapkan tidak hanya menjadi tempat tinggal sementara, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kembali kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat pascabencana.