Ia menggambarkan situasi Selat Hormuz saat ini lebih tepat dipahami sebagai ditutup secara selektif terhadap beberapa lalu lintas, sementara masih berfungsi untuk ekspor Iran dan sejumlah kecil pergerakan non-Iran yang ditoleransi.
Sejumlah kapal dari negara lain juga berhasil melintas setelah negosiasi diplomatik.
Tanker berbendera Pakistan, Karachi, serta kapal LPG India, Shivalik dan Nanda Devi, dilaporkan melintasi selat tersebut pada pertengahan Maret.
Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar menyebut kapal-kapal tersebut dapat melintas setelah dilakukan pembicaraan dengan Iran.
Pemimpin redaksi Lloyd's List, Richard Meade, menilai sebagian pelayaran kemungkinan berlangsung dengan tingkat intervensi diplomatik tertentu, mengindikasikan Iran menciptakan koridor aman di dekat wilayah pantainya.
Sementara itu, negara-negara Eropa dan Jepang menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah konkret dalam menstabilkan pasar energi global, termasuk mendukung upaya pembukaan jalur vital Selat Hormuz.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang menekankan pentingnya moratorium serangan terhadap infrastruktur energi dan menyatakan siap berkontribusi dalam upaya yang tepat untuk memastikan jalur pelayaran yang aman.