Pada hari yang sama, kapal kargo curah berbendera Thailand, Mayuree Naree, juga dihantam dua proyektil saat melintas di Selat Hormuz. Serangan tersebut memicu kebakaran dan merusak ruang mesin.
Perusahaan operator kapal, Precious Shipping, melaporkan tiga awak kapal hilang dan diduga terjebak di ruang mesin, sementara 20 awak lainnya berhasil dievakuasi ke Oman.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Tasnim, IRGC mengaku telah menembaki kapal tersebut.
Tiga kapal lainnya dilaporkan mengalami kerusakan ringan akibat serangan proyektil. Kapal kontainer berbendera Jepang, ONE Majesty, rusak akibat proyektil di lepas pantai Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab. Kapal kargo curah berbendera Kepulauan Marshall, Star Gwyneth, juga terkena proyektil di barat laut Dubai.
Pada Kamis pagi (12/3/2026), Lembaga Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kontainer terkena proyektil hingga memicu kebakaran kecil di utara Jebel Ali, UEA.
Menyusul serangkaian serangan ini, harga minyak mentah dunia melonjak hampir 5 persen, dengan Brent ditutup di level USD91,98 per barel.
Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak sebesar 400 juta barel, terbesar dalam sejarah, untuk menstabilkan pasar.