CARAPANDANG - Para pengamat dan analis pasar modal menilai durasi eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan ke depan. Ketegangan geopolitik yang memanas sejak akhir pekan lalu telah memicu aksi jual di bursa global dan meningkatkan volatilitas di pasar domestik.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyatakan bahwa fokus utama investor saat ini tertuju pada durasi konflik dan tingkat eskalasi yang terjadi. Menurutnya, hal tersebut akan berdampak signifikan terhadap stabilitas Selat Hormuz dan arah pergerakan harga minyak global.
"Fokus utama investor, yaitu durasi konflik dan tingkat eskalasi, stabilitas Selat Hormuz, dan arah harga minyak di atas 90-100 dolar AS per barrel," ujar Liza seperti dikutip Antaranews, Senin (2/3/2026).
Senada dengan Liza, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan IHSG akan bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini. Ia memperkirakan support IHSG berada di level 8.031 dan resistance di 8.437.
"Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia," ujar Imam.