CARAPANDANG - Seorang wasit dan seorang mahasiswi termasuk di antara ratusan orang yang dilaporkan tewas selama unjuk rasa anti-pemerintah besar-besaran di Iran.
Korban jiwa ini muncul dalam gelombang protes yang telah menyebar ke 186 kota di 31 provinsi negara tersebut.
Amir Mohammad Koolkan (26), seorang pelatih dan wasit futsal dalam ruangan, ditembak dengan amunisi hidup pada 3 Januari selama protes di kota Neyriz, Provinsi Fars.
Seorang teman dekatnya menyatakan keluarga Koolkan berduka dan marah karena ia "dibunuh oleh rezim".
"Semua orang mengenalnya karena kebaikan dan sifatnya yang baik. Seluruh kota mencintainya," kata sang teman kepada BBC Persia.
Korban lain adalah Rubina (atau Robina) Aminian (23), seorang mahasiswi Kurdish yang ditembak dari belakang saat mengikuti unjuk rasa di Teheran pada 8 Januari.
Menurut kelompok hak asasi manusia, ia ditembak di kepala atau punggung oleh pasukan keamanan pemerintah.
Paman Aminian menggambarkannya sebagai gadis kuat dan pemberani yang "haus akan kebebasan, haus akan hak-hak perempuan".
Pembatasan Informasi dan Korban Jiwa yang Tinggi
Pelaporan dari dalam Iran sangat terbatas karena pemerintah memberlakukan pembatasan internet sejak pekan lalu, menyulitkan verifikasi informasi.
Menurut Human Rights Activist News Agency (HRANA), setidaknya 496 pengunjuk rasa dan 48 personel keamanan telah tewas dalam dua pekan protes, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap.