Menariknya, dari program revitalisasi dan rehabilitasi satuan Pendidikan, Wamen Atip mengatakan jika pemerintah juga membuka ruang partisipasi publik dengan masyarakat didorong untuk melaporkan kondisi sekolah yang rusak atau belum tersentuh program, bahkan turut berkontribusi dalam pemenuhan fasilitas tambahan. “Kalau ada kebutuhan yang belum terpenuhi, masyarakat bisa ikut membantu. Ini menjadi gerakan bersama untuk memperbaiki pendidikan,” ungkapnya.
Selain pembangunan fisik, perhatian juga diberikan pada aspek kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah. Fasilitas sanitasi, seperti toilet, disebut sebagai indikator penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan beradab.
Wamen Atip juga mengingatkan bahwa revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan, tetapi harus diikuti dengan pemeliharaan yang konsisten. Sekolah diharapkan tetap menjaga kebersihan, kerapian, dan kenyamanan agar manfaatnya berkelanjutan. “Sekolah yang baik bukan hanya dibangun, tetapi juga dirawat. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.