Di perairan Teluk Persia, konflik juga mengancam ekosistem laut yang kaya. Doug Weir, Direktur Conflict and Environment Observatory (CEOBS), organisasi nirlaba yang berbasis di Inggris, mengungkapkan bahwa serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut meningkatkan risiko tumpahan minyak.
"Sebuah kapal perang Iran yang terkena torpedo kini menimbulkan tumpahan minyak sepanjang beberapa kilometer di lepas pantai Sri Lanka. Dampak lingkungan ini telah meluas hingga ke wilayah di luar Teluk Persia," ujarnya.
Teluk Persia sendiri merupakan rumah bagi terumbu karang luas, padang lamun, serta populasi duyung (dugong) terbesar kedua di dunia yang terancam punah.
Dampak lingkungan dari konflik ini juga berkontribusi terhadap perubahan iklim global melalui emisi karbon yang dihasilkan aktivitas militer.
Benjamin Neimark, pengajar di Queen Mary University of London, mengatakan bahwa pengerahan pesawat pengebom siluman dan jet tempur AS-Israel yang beroperasi selama 24 jam mengonsumsi bahan bakar dalam jumlah besar dan melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah masif ke atmosfer.
"Angkatan Laut AS juga mengerahkan armada besar yang diperkirakan akan beroperasi jarak jauh untuk beberapa waktu. Ini berarti pasokan energi untuk personel dalam jumlah besar di kapal yang bekerja siang dan malam. Kota-kota terapung ini membutuhkan energi," jelas Neimark.