Prediksi BMKG menempatkan intensitas El Nino dalam kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen.
"Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia," jelas Ardhasena.
BMKG mencatat jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia hingga awal April 2026 telah mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Peningkatan ini menjadi indikasi awal tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni 2026, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan.
Ancaman serupa juga akan berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG menambahkan bahwa wilayah-wilayah sentra perkebunan seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah perlu mendapatkan perhatian khusus. Dominasi lahan gambut di wilayah tersebut menjadikannya sangat rawan terhadap kebakaran.
Untuk wilayah Kalimantan Timur, khususnya kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), diperkirakan akan memasuki musim kemarau ekstrem mulai pertengahan Juni hingga Juli 2026, dengan puncak kekeringan pada Agustus.