Dominasi ini menjadi semakin kritis seiring dengan terus menurunnya penggunaan uang tunai di negara tersebut.
"Jika Mastercard dan Visa dimatikan, kita akan kembali ke era 1950-an," ujar seorang eksekutif yang mengetahui rencana proyek ini kepada The Guardian, merujuk pada masa ketika ekonomi sepenuhnya bergantung pada uang tunai.
"Tentu saja, kita membutuhkan sistem pembayaran yang berdaulat," tegasnya.
Kekhawatiran ini bukannya tanpa dasar. Pengalaman Rusia menjadi contoh nyata, ketika AS menjatuhkan sanksi dan memaksa Visa serta Mastercard menghentikan layanan di sana, sekitar 60 persen transaksi pembayaran terhenti, membuat warga biasa tidak dapat mengakses dana atau membeli barang.
Kekhawatiran serupa juga muncul di Uni Eropa. Ketua Komite Urusan Ekonomi dan Moneter Parlemen Eropa, Aurore Lalucq, bulan lalu mengeluarkan peringatan keras yang menyebar luas.
"Visa, Mastercard, masalah mendesaknya adalah sistem pembayaran kita. Trump dapat mematikan semuanya," katanya.
Ia mendesak Komisi Eropa untuk segera membangun proyek 'Airbus' untuk sistem pembayaran Eropa.
Proyek sistem alternatif Inggris, yang untuk sementara disebut DeliveryCo, akan melibatkan bank-bank besar seperti Barclays, NatWest, Lloyds, Santander, dan Nationwide . Sistem baru ini ditargetkan dapat beroperasi penuh pada tahun 2030.