Beranda Perspektif Aturan Tidak Bisa Tunduk pada Kekuasaan Hegemonik

Aturan Tidak Bisa Tunduk pada Kekuasaan Hegemonik

Romelu Lukaku (pertama dari kiri) dari Belgia mencetak gol melalui sebuah tendangan dalam pertandingan babak 16 besar antara Amerika Serikat (AS) melawan Belgia di ajang Piala Dunia FIFA 2026 di Seattle Stadium di Seattle, AS, pada 6 Juli 2026. (Carapandang/Xinhua/Xu Chang)

0
Xinhua

CARAPANDANG.COM, BEIJING -- Amerika Serikat (AS) telah lama memperlakukan aturan internasional sebagai sesuatu yang bersifat opsional alih-alih mengikat, yang dipatuhi ketika menguntungkan, tetapi diabaikan ketika dianggap tidak sesuai kepentingan. Upaya terbaru Presiden AS Donald Trump untuk memengaruhi sebuah ajang olahraga internasional menjadi ilustrasi sempurna dari perilaku standar ganda tersebut.

   Insiden itu sendiri tidak sepenting alasan yang mendasarinya. Aturan memperoleh legitimasi melalui konsistensi dan ketidakberpihakan, bukan melalui pengaruh pihak-pihak yang berupaya mendapatkan pengecualian. Begitu keputusan mulai dibentuk oleh tekanan politik alih-alih prosedur yang telah ditetapkan, kepercayaan terhadap sistem secara keseluruhan pun mulai terkikis.

   Pola ini jauh melampaui dunia olahraga. AS telah lama mengeklaim dirinya sebagai penjaga "tatanan internasional berbasis aturan," tetapi rekam jejaknya menunjukkan adanya standar ganda yang mencolok. Negara tersebut dengan gigih menegakkan aturan yang menguntungkan kepentingannya, tetapi menuntut pengecualian, mengubah ketentuan, atau bahkan mengabaikan sistem ketika aturan yang sama menjadi beban bagi kepentingannya.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait