CARAPANDANG - Sejumlah negara di Asia meningkatkan penggunaan batu bara untuk menutupi kekurangan pasokan energi yang dipicu oleh perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Korea Selatan menunda penghentian operasi pembangkit listrik tenaga batu bara, sementara Filipina juga berencana meningkatkan produksi pembangkit listrik berbahan bakar batu bara mereka.
Konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari satu bulan ini menyebabkan terganggunya jalur distribusi energi global pasca-penutupan efektif Selat Hormuz.
Kondisi ini memicu kelangkaan pasokan Liquefied Natural Gas (LNG), yang selama ini menjadi sumber energi transisi bagi banyak negara Asia.
Korea Selatan, yang sebelumnya memiliki kebijakan untuk menghentikan operasi pembangkit listrik tenaga batu bara secara bertahap, kini mengubah arah kebijakannya.
Seorang pejabat senior Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan menyatakan bahwa pemerintah akan memperpanjang operasi tiga pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebelumnya dijadwalkan tutup tahun ini.
Keputusan ini diambil setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menginstruksikan Menteri Kim Sung-hwan untuk meninjau ulang rencana penghentian operasi tersebut.
Tiga pembangkit yang dimaksud adalah Unit 1 Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Hadong di Provinsi Gyeongsang Selatan yang dijadwalkan tutup pada Juni, diikuti oleh Unit 5 Boryeong dan Unit 2 Taean di Provinsi Chungcheong Selatan.