CARAPANDANG - Sebuah investigasi bersama yang dilakukan oleh Al Jazeera English dan Liberty Investigates mengungkap bahwa 12 universitas terkemuka di Inggris secara diam-diam membayar perusahaan keamanan swasta untuk memata-matai mahasiswa dan akademisi yang mendukung Palestina.
Perusahaan yang digunakan adalah Horus Security, yang dijalankan oleh mantan perwira militer Inggris. Antara Januari 2022 hingga Maret 2025, ke-12 universitas tersebut membayar setidaknya £440.000 atau setara Rp9 miliar kepada perusahaan itu.
Daftar 12 Universitas yang Terlibat:
1. University of Oxford
2. Imperial College London
3. University College London (UCL)
4. King's College London (KCL)
5. London School of Economics (LSE)
6. University of Bristol
7. University of Sheffield
8. University of Leicester
9. University of Nottingham
10. Cardiff Metropolitan University
11. Manchester Metropolitan University
12. Newcastle University
Horus Security menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) untuk memantau aktivitas daring para pendukung Palestina.
Sistem AI ini tidak hanya melacak penyelenggara aksi protes, tetapi juga membuat profil terhadap akademisi yang dianggap kritis terhadap kebijakan Israel. Pemantauan dilakukan melalui analisis media sosial dan open-source intelligence (OSINT).
Temuan Al Jazeera:
· University of Bristol membayar lebih dari £8.700 untuk layanan "peringatan" yang mencakup semua aktivitas protes di kota tersebut.