Ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri menjadi penyebab utama. Banyak lulusan muda menghadapi situasi ketika lowongan kerja mensyaratkan pengalaman, sementara mereka belum memperoleh kesempatan untuk mendapatkannya.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan mendorong perubahan pendekatan pelatihan vokasi dari berbasis pasokan (supply-driven) menjadi berbasis kebutuhan industri (demand-driven) . Pemerintah menargetkan pelatihan vokasi bagi 340 ribu orang dan program magang bagi 150 ribu orang pada 2026.
"Berangkat dari demand, barulah nanti pelatihannya itu terintegrasi di tempat kami, kemudian sertifikasi, we also thinking about global recognition, bagaimana ini bisa kita bangun, baru terakhir nanti penempatan," ujar Yassierli.